Cukup sering saya mendengar pandangan orang luar tentang profesi dosen yang berujar kira-kira intinya seperti ini: “Jadi dosen itu lumayan enak. Emang sih terkadang kerjaan se-dos gaji se-sen, tapi bisa disambi-sambi. Secara gaji emang jelas kurang bisa diharapkan tapi yang penting dapat status…” Ironisnya kalimat ini juga sering dilontarkan (dan saya mendengar/membaca sendiri) oleh rekan-rekan dosen sendiri. Saya jadi berpikir, apakah paradigma inilah yang mewarnai aktivitas para dosen. Paling tidak hal ini menjadi salah satu faktor internal rendahnya profesionalitas seorang dosen. Apakah pendapat saya terlalu berlebihan?
Fenomena yang saya amati di kota asal saya, banyak rekan-rekan dosen yang datang dan pergi sesuka hati jam berapa. Paling tidak di tempat kampus saya mengajar, tidak ada kewajiban presensi sehingga jika tingkat kedisplinan dikaitkan dengan kedatangan, jelas rendah nilainya. Keengganan kampus (?) mengadakan sistem presensi mungkin disebabkan juga faktorbelum bisa memberikan fasilitas penuh bagi dosen jika mereka “memaksa” dosen harus 8 jam berada di lingkungan kampus. Selain mungkin aktivitas dosen yang produktif juga sering tidak dalam fakultas yang bersangkutan (harus beredar ke fakultas-fakultas lain, misalnya). Lalu apa yang dilakukan jika para dosen tidak berada di kampus? Karena saya tidak pernah melihat secara langsung, saya berharap keterlambatan atau ketidakdatangannya karena mereka memilih mengerjakan pekerjaan di rumah. Tidak dipungkiri, suasana kampus yang ramai, ruangan dosen yang sempit membuat dosen kurang nyaman menyiapkan bahan ajar, membaca, menulis laporan, dan kegiatan produktif lainnya.
Yang kedua adalah performansi yang alakadarnya. Mengutip istilah agama, sekedar menggugurkan kewajiban. Misalkan, mengajar sekian SKS, membimbing sekian mahasiswa, dan melakukan penelitian sekian tiap tahun. Untuk yang terakhir penelitian yang dimaksud bukan penelitian yang bersangkutan sebagai peneliti utama, melainkan penelitian mahasiswa yang menjadi bimbingannya.
Sesungguhnya kewajiban seorang dosen menurut aturan dari pemerintah ada 3 yang tercakup dalam tri dharma perguruan tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Saat ini untuk aturan kenaikan pangkat, pengajaran masih menduduki persentase tertinggi sekitar 30%, penelitian 25 %, pengabdian masyarakat 15%, dan penunjang 20%. Namun, ke depannya porsi penelitian akan ditingkatkan karena kualitas riset suatu universitas menduduki persentase tertinggi dalam penilaian perguruan tinggi secara internasional. Tanpa mengesampingkan pengabdian masyarakat, dalam tulisa ini saya berminat mencermati dulu dua terbesar, yaitu mengajar dan meneliti. Mengapa? Karena logikanya, jika dosen tidak mampu mengajar dan meneliti dengan baik, maka sumbangsih keilmuan dia terhadap masyarakat juga akan alakadarnya.
Banyak dosen yang memang lebih senang mengajar dibanding meneliti. Hal yang sangat mudah dipahami, karena mengajar memang bisa menghasilkan uang secara lebih riil. Sedangkan meneliti memerlukan pengajuan yang prosesnya lama belum tentu disetujui. Selain itu meneliti perlu ketekunan, dana yang tidak sedikit, pengakuan yang masih kurang, dan banyak kekurangan lain. Namun kalau dicermati, bagaimanakah kualitas mengajar kita sendiri? Penilaian dari mahasiswa selama ini (di tempat saya) memang performansi dosen rata-rata memuaskan, cukup memenuhi ekspektasi mahasiswa. Namun ini sesungguhnya belum mencermikan kualitas pengajaran. Kenapa? Karena penilaian yang tepat tidak semata-mata dari kuesioner mahasiswa yang kevalidannya sendiri tidak yakin pernah diukur..
Saat ini sepertinya sudah dirintis ke arah penilaian pengajaran melalui tim/panel sehingga hasilnya lebih obyektif. Atau kalau mau meneliti diri sendiri, cermati saja kapan terakhir kita memperbarui bahan ajar. Yang paling sederhana, adakah pembaruan dari segi layout bahan ajar? Jangan-jangan masih pakai slide model jadul, atau file yang itu-itu melulu dari pertama dibuat (buatnya juga ketika mau ada akreditasi atau assessment lain..hehehe). Contoh-contoh riil baru apa yang kita sisipkan, atau referensi apa yang terakhir kita baca. Adakah teori yang selama ini kita pakai masih relevan atau jangan-jangan sudah dipatahkan?
Sekarang tentang penelitian. Data menunjukkan hanya 1.1 % dari 180.000 dosen di Indonesia yang layak meneliti. Ini tidak semata-mata disebabkan kurangnya dana penelitian. Menurut artikel di dikti, kekurangan ini bukan karena minimnya dana penelitian melainkan ya yang seperti tersebut diatas. Kemauan dan kemampuan dosen untuk meneliti memang kurang. Meneliti memang merepotkan, karena UUD=ujung-ujungnya duit.. :p Makanya di kalangan dosen memang sering terdengar kalimat: “jangan harap kami menjadi profesional kalau kesejahteraan masih kurang. ..” Namun akibat minimnya penelitian ini ternyata kontribusi Indonesia pada jurnal internasional hanya 0,012 persen. Sumbangan yang lebih kecil daripada Nepal, negara yang lebih kecil dan kalah maju dibandingkan Indonesia, namun mampu berkontribusi lebih besar yaitu 0,014 persen. Nah lho, saya belum ngecek apa gaji dosen disana besar sehingga akan ada pembenaran lagi buat kita untuk ngeles dari kegiatan meneliti?..
Jadi apakah pokok pangkal masalahnya pada uang? Mungkin iya, tapi tidak sepenuhnya. Dalam pandangan saya, jika kita tidak bisa berkontribusi secara maksimal, minimal tidak alakadarnya. Kembali mengutip istilah agama, perbaiki kualitas ibadah wajib, perbanyaklah ibadah sunnah.. hehehe Kalau misi dalam hidup adalah beribadah, tentunya memperbaiki kualitas diri sebagai dosen merupakan bagian dari ladang jihad kita. Oleh karenanya, sambil menunggu kenaikan kesejahteraan (semoga, amiin), ada hal krusial yang bisa kita ubah (jika kita merasa saat ini dalam posisi tersebut) ,yaitu mengubah paradigma. Dari menjadi dosen demi status, punya pekerjaan cukup bergengsi yang bisa disambi berubah menjadi dosen sebagai pekerjaan profesional, sama halnya dengan bankir, dokter, manajer, dan profesi lain.
Semoga sentilan ini menjadi pengingat kita semua bahwa ketika kita memilih pekerjaan sebagai dosen, kita perlu menyadari bahwa tiap pekerjaan memerlukan profesionalitas. Mengerjakan yang minimal saja tidak cukup. Bukan demi kepentingan naik jabatan tapi demi kepentingan penyebaran ilmu pengetahuan yang kita miliki. Kita sering meminta anak didik kita pantang menyerah, rajin belajar, kita sering mengeluh mahasiswa sekarang malas membaca kalau ada text book atau reference dalam bahasa Inggris, tapi apa yang telah kita lakukan? Banyak yang enggan mengupdate ilmu pengetahuan sehingga masih berkutat dengan teori lama yang mungkin sudah tidak aplikatif di dunia kerja. Banyak yang masih jarang berselancar di dunia maya untuk menggali berbagai ilmu entah bidang yang kita ajar, tips mengajar, bahan-bahan riset, cara aplikasi ilmu, dan lain-lain. Banyak yang masih segan menulis dengan berbagai alasan. Mungkin memang mahasiswa kita diberi yang standar saja belum tentu bisa mengunyah, tapi itu bukan alasan buat kita untuk terus mengembangkan diri. Di luar sana banyak sekali tersedia wahana untuk menyalurkan ilmu jika kita merasa misalkan untuk mengajar di kelas cukup materi dasar. Kita bisa membuat blog, berdiskusi di forum, aktif di komunitas keilmuan, menulis review, dan lain-lain. Ah, saya sendiri merasa sangat malu pada mahasiswa, selama ini saya sendiri sering komplain tentang mereka, padalah sepatutnya saya wajib memperbaiki diri saya. Semoga ke depannya kita semua terutama saya berubah menjadi dosen profesional, jangan sampai saya cuma nebeng statusnya saja.
Pahang, Mei 2009
bersambung